Sebagai orang tua hendaklah menaruh perhatian terhadapa sisi perasaan ini dalam mendidik anak. Hal yang dapat membantu orang tua dalam mewujutkannya adalah dengan melakukan hal-hal berikut :

  1. Menubuhkan keberanian pada diri anak dalam mengungkapkan sesuatu. Yaitu dengan jalan menunjukkan peran anak dalam menanamkan kepercayaan dalam jiwa anak. Sehingga, ia akan hidup dengan mulia, menjadi pemberani, bersikap terus terang, dan senggup mengungkapkan pendapatnya dalam batas-batas kesopanan dan kewajaran yang jauh dari sikap menutup diri dan terlalu membuka diri. Hal inilah yang akan menumbuhkan rasa ketenangan dalam dirinya dan akan menghasilkan kekuatan dan kewibawaan. Sehingga, ia tidak ragu, takut, merasa rendah, dan merasa kecil.

  2. Mengajak anak dalam musyawarah. Seperti mengajak mereka bermusyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan rumah atau yang lainya, dan meminta pendapat mereka, seperti meminta pendapat mereka dalam hal perabotan rumah, warna mobil yang hendak dibeli oleh sang ayah, meminta pendapat mereka berkaitan dengan tempat rekreasi yang hendak dituju dan juga waktunya. Lalu hendalah orang tua mempertimbangkan pendapat-pendapat mereka. Hendaklah ia meminta setiap anaknya untuk mengungkapkan alasan-alasannya dan faktor-faktor yang mendorong berpendapat seperti itu, dan seterusnya. Juga dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih jenis tas sekolah, buku-buku tulis atau semisal dengan hal itu. Sekiranya pilihannya itu menyelisihi syariat, maka hendaklah orang tua menjelaskannya kepada mereka. Sungguh, hal ini akan dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, menghargai keberadaan mereka, melatih mereka untuk mengolah akal pikiran mereka, merangsang bakat mereka, dan membiasakan mereka untuk mengungkapkan pendapat-pendapat mereka.

  3. Membiasakan anak untuk melaksanakan sebagian kewajibannya. Seperti membimbing mereka untuk mengurusi rumah di saat orang tuanya tidak ada, dan membiasakan merekan untuk membelanjakan sesuatu. Yaitu dengan memberikan sejumlah uang dalam setiap bulannya atau setiap tahunnya untuk keperluan dirinya dan rumahnya.

  4. Membiasakan anak untuk ikut andil dalam kegiatan –kegiatan sosial. Yaitu dengan memberikan motivasi kepada merekan untuk berpartisipasi dalam membantu agama dan kaum muslimn, baik dengan cara berdakwah, membantu para pengungsi, membantu fakir miskin, serta membantu yayasan-yayasan sosial dan lain sebagainya.

  5. Melatih anak utuk mengambil keutusan. Contohnya, sang ayah memposisikan anaknya untuk melakukan suatu tindakan dalam kondisi sangat genting yang membutuhkan tindakan cermat dan pengambilan keputusan yang segara, dan ia harus bertanggung jawab atas apa yang bakal terjadi. Bila ia benar, maka sang ayah akan terus memotivasi. Namun, bila keliru, maka sang ayah akan membenarkan dan meluruskannya dengan lemah lembutm. Hal ini akan menjadika anak terbiasa untuk menghadapi kehidupan dan bersikap bijak ketika berhadapan dengan kondisi yang sangat genting.

  6. Memahami tabiat dan psikologi anak. Masalah ini masalah ini diperhatikannya aspek perasaan, mau memahami kondisi, dan cermat dan memandang. Apabila seorang pendidik melaksanakan hal itu dan memperlakukan anak didiknya sesuai dengan prinsip itu, maka tentu ia akan memperbaiki pola pendidikan mereka, dengan metode yang paling baik.

  7. Memahami fase usia anak. Anak akan terus menjadi besar. Ia akan tumbuh dan berfikir. Maka handaklah orang tua berinteraksi dengan anaknya sesuai dengan usia, daya pikir dan kemampuannya. Jangan sampai ia terus memperlakukanya seperti anak kecil, dan jangan pula memperlakukan anak kecil seperti orang dewasa denga menuntutnya untuk melakukan hal-hal yang biasanya hanya mampu dilakukan oleh orang dewasa, atau menghukum mereka seperti hanya ia menghukum anak yang telah dewasa.

  8. Menghindari berbenturan dengan anak secara langsung. Hendalah sebisa mungkin untuk mengupayakan hal itu, terutama pada anak-anak yang berusia remaja. Hendaklah orang tua membimbing mereka dengan metode yang persuasif, berdialog akrap, berbincangan dengan tenang dan bersifat membangun, yang menggabungkan antara akal dan kasih sayang.
  9. Duduk bersama anak-anak. Sesibuk apa pun, hendaklah seorang ayah menyisihkan waktunya untuk duduk-duduk bersama dengan anak-anaknya, bercengkrama dengan mereka, menghibur mereka, mengetahui kebutuhan mereka, dan bercerita kepada mereka tentang masalah-masalah yang sedang hangat. Sebab, kedekatan seorang anak dengan kedua orang tuanya sangat dibutuhkan sekali dan memiliki pengaruh yang jelas. Hal ini telah diujicoba. Orang tua yang dekat dengan anak-anaknya, duduk-duduk bersama dengan mereka, maka ia akan mendapatkan hasil dari aktivitas itu pada diri anak-anaknya, yaitu kondisi mereka menjadi tenang, jiwa meraka menjadi tentram, dan tabit mereka menjadi lurus dan baik.

Adapun kaum ayah yang disibukan dengan dunianya sehingga melalaikan anak-anaknya, maka mereka akan melihat akibat yang menimpa anak-anak mereka. Dunia akan menjadi gelap-gulita di hadapan mereka. Mereka tidak tahu lagi ke mana arah perjalan kehidupan ini. Sehinggan, mereka akan menyimpang dari jalan yang benar. Bahkan boleh jadi, hal tersebut akan mengarah kepada kebencian anak kepada kedua orang tuanya, atau mendorong mereka untuk lari dari rumah dan terjerumus ke dalam kerusakan.

Ketika orang tua telah memasuki usia lanjut, dan ia memiliki banyak waktu senggang, lalu ia ingin duduk-duduk bersama dengan anaknya, maka hai itu sangat sulit untuk direalisasikan. Sebab, ia tidak terbiasa untuk melakukan hal itu dan tidak membiasakannya pada diri anak-anaknya. Hal ini pun telah diujicoba. Ketika orang tua melarang anak-anaknya di masa kecil untuk duduk-duduk bersamanya, maka ketika ia berusia lanjut, maka anak-anaknya pun engganuntuk duduk-duduk bersamanya.

  1. Berlaku adil kepada anak-anaknya. Tidaklah langit dan bumi beredar kecuali di atas nilai keadilan. Dan tidak mengkin kehidupan manusia mampu berjalan dengan baik tanpa nilai keadilan. Maka, hal itu wajib dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya adalah berlaku adil di antara mereka, baik dalam hal materi, seperti pembarian, hadiah dan hibah, taupun hal yang maknawi, seperti kasih sayang dan lainya.

  2. Memenuhi kebutuhan kasih sayang mereka. Hal yang hendaknya diperhatika pada diri anak-anak adalah memenuhi kebutuhan kasih sayang mereka dan menunjukkan kecintaan di hadapan mereka. Sehingga, mereka tidak terhalang untuk mendapatkan hal itu dan malah mencarinya di luar rumah. Ucapan yang baik, sentuhan yang penuh kasih sayang, senyum yang tulus dan hal-hal yang senada dengan itu memiliki pengaruh yang mendalam pada jiwa anak.

  3. Memberikan nafkah yang baik kepada mereka. Yakni dengan memenuhi kebutuhan mereka, sehingga tidak memaksa mereka untuk mencari kebutuhan materi mereka di luar rumah.

  4. Menumbuhkan semangat itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri) di antara anak-anak. Yaitu dengan menguatkan jiwa tolong-menolong di antara mereka, menglah unsur-unsur kasih sayang dalam jiwa mereka, membiasakan mereka untuk berderma dan merasakan apa yang dirasan oleh orang lain. sehingga, dalam diri mereka tidak tumbuh jiwa egoisme dan halnya memikirkan diri sendiri. Mendidik mereka dengan metode tersebut akan mampu menyelasaikan berbagai problematika yang terjadi di dalam rumah.

  5. Menaruh perhatia terhadap mereka tatkala mereka berbicara dan menunjukkan perhatiannya terhadap isi pembicaraan. Hal ini lebih baik daripada tidak memedulikan mereka, memalingkan wajah dan hanya diam saja (tanpa mengomentarinya). Tatkala seorang anak __ terutama yang masih kecil__ berbicara, maka hendaklah orang tua benar-benar memperhatikanya dan menunjukkan perhatiannya terhadap isi pembicaraanya. Seperti menunjukkan raut muka yang mengidikasikan ketakjubannya, atau mengeluarakan nada gerakan yang menunjukan perhatian dan ketakjubannya, seperti mengucapkan, “Luar biasa!” , “Bagus sekali!” , “Benar!” Atau dengan ekspresi bangkit dari duduk dengan tergopoh-gopoh, menggeleng-gelengkan kepala, mengajaknya duduk, atau menjawab pertanyaan yang terlontar darinya, dan lain sebagainya. Sikap seperti ini memili berbagai pengaruh positif, di antaranya :

  1. Sikap seperti ini akan mengajarakan kepada anak untuk lancar berbicara.

  2. Membantunya untuk menyusun gagasan pemikiranya secara otomatis.
  3. Melatinya untuk menaruh perhatian dan memahami apa yang is dengar dari orang lain.
  4. Menumbuhka jati diria anak.
  5. Menguatkan ingatannya dan membantunya untuk mengungkapkan kembali hal-hal yang telah berlalu.

  6. Menambah kedekatan anak dengan orang tuanya.

Inilah sebagin metode untuk mencerdaskan emosional san mempertajam perasaan anak.

Sumber dari buku yang berjudul “Melembutkan Perasan” karya Muhammad Bin Ibrohim Al-Hamd, penerbit qalamedia