Insan yang berakal mendambakan kemuliaan hingga ia mendapat tempat yang tinggi. Hal itu menjadikan pelakunya mulai ketika ditujukan utuntuk Allah, demi Allah, dan selalu di jalan Allah. Dan akan membuat hina ketika obsesinya dunia saja.

Dokumentasi sejarah perjalanan hidup manusia (zaman dahulu) sering kita buka, bahkan mungkin menjadi sebuah hafalan sejak usia dini. Rekaman sejarah yang pasti benar dan harus kita benarkan tersebut adalah Al Quran. Kisaran hidup yang diceritakan adalah kejayaan dan kehancuran umat-umat saat itu, yang sengaja Allah kabarkan sebagai pelajaran untuk titian hidup kita. Ibrah (pelajaran) yang harus kita ambil diantaranya adalah sebab musabab kemuliaan kaum yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kehancuran kaum yang menentang risalah para rasul yang di utus Allah kepada mereka.

Satu kisah saja yaitu raja Fir’aun dan kaumnya, dimana mereka mengalami kehancuran dengan sehancur-hancurnya. Fir’aun dan pasukannya mengalami sakaratul maut di luar istananya, ranpa ampun mereka tenggelam di laut yang dalam yaitu laut merah. Pokok kehancuranya adalah sikap sombong terhadap risalah Nabiyullah Musa hingga dia begitu lantang mentahbiskan dirinya sabagai Tuhan bagi kaumnya. Allah menggambarkan perkataan Fir’aun tersebut, “Berkata,” AKulah tuhanmu yang paling tinggi.” (An-Nazi’at :24)

Namun bukan kemuliaan yang diperoleh, tetapi adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Itulah gambran manusia yang mengikari risalah ilahiyah yang dibawa oleh para rasul. Sungguh sangat kontras dengan mereka yang menerima risalah tesebut, takut terhadap rabbnya, mereka menjadi mulia dan selalu hidup (namanya) walaupun jasad telah tertutup oleh debu dan tanah. Mereka pun merengkuh kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

KARAKTER TAWADHU

Kaum yang memperoleh jaminan kebahagiaan tersebut adalah mereka yang berkarakter tawadhu. Dan meraka mendapat pengakuan sebagai hamba-Nya sabagai mana firman Allah SWT, “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyanyang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. (Al-Furqan :63)

Dalam ayat di atas, orang yang bertawadhulah yang sisebut sebagai ‘Ibadur Rahman yaitu seorang hamba yang memurnikan penghambaannya kepada Ar-Rahman. Sedang rendah hati berarti lemah lembut dan kasih, tenang dan merendah, tidak bergaya, tidak berbangga dan tidak sombong. Muhammad bin Al-Hanafiah mengatakan bahwa mereka adalah orang yang tentram, kesatria dan tidak bertindak bodoh dan jika dianggap bodoh, mereka bertindak bijaksana.

MUALI DENGAN TAWADHU

Sikap tawadhuk merupakan perintah Allah begi Rasulullah, dan seluruh kaum mukminin. Sebagaimana sabda beliau dalam hadist dari ‘Iyadh bin Himar yang berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku bersikap rendah hati sehingga seseorang tidak membanggakan terhadap yang lainya dan tidak memusuhi antara satu terhadap lainya.” (Sahih Muslim)

Setiap perintah Allah mempunyai hikmah/keutamaan yang agung guna mengangkat derajat hamba-Nya, hal ini untuk member motivasi mengelola diri kaum muslimin. Keutamaan sikap tawadhu telah disabdakan oleh Rasulullah yaitu, “Shadaqah tidak mengurangi harta sedikit pun, Allah menambah kemuliaan hamba ynag memberi maaf dan seseorang yang bersikap tawadhu di hadapan Allah, Dia pasti meninggikan derajatnya.” (Riwayat Muslim)

Orang yang tawadhu merupakan kekasih Allah dan kekasih hamba-hamba-Nya. Ia dekat dengan kebaikan dan jauh dari keburukan dan kemungkaran. Betapa banyak cinta kasih dan persahabatan yang dipetik dari sikap tawadhu dan betapa banyak sanjungan dan doa yang diberikan manusia dikabulkan oleh Allah. Betapa besar simpati yang didapat dari sikap tawadhu sehingga meskipun orang yang miskin menjadi disegani. Betapa banyak kebaikan didapatkan dengan sikap tawadhu sebab orang yang menrendahkan diri (hatinya) dan tidak tinggi hati pasti diangkat oleh Allah.

Tawadhu merupak akhlak para nabi dan rasul serta sifat-sifat orang yang bertaqwa dan mendapat petunjuk. Sikap tawadhu menambah orang yang mulia menjadi lebih mulia dan mengakat yang rendah ke tingkat yang tinggi hingga sampai derajat para wali dan kekasih Allah. Maka alangkah baiknya sikap tawadhu bila orang yang menunjukkanya, atau orang-orang yang terhormat, atau para pemimpin. Sikap tawadhu menghasilkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Orang yang bertawadhu kepada Allah dan kepada manusia dalam segala bentuk pergaulanya selalu memperoleh keuntungan berupa kebaikan dan pahala dari Allah SWT. Sebab setiap kali bertemu dengan manusia dan berkumpul dengan mereka senantiasa dengan niat yang baik, ucapan yang lembut, rendah hati baik kepada yang kaya maupun yang miskin. Ia memandang diri tidak berbeda dengan mereka. Sikap, motivasi dan pergaulan demikian tersebut merupakan pendekatan kepada Allah SWT yang memelihara rasa cinta kasih, simpati dab doa dari orang lain.

Semoga Allah menjadikan kitas sebagai hamba-hamba-Nya yang tawadhu. Amin. Wallahu a’lam bis shawab.

Maraji’ : Tawadhu dab Takabur, Abdullah bin Jarullah Al-Kautsar, 1997

Sumber tulisan ini dari majalah Nikah Vol.4, No.1, April 2005