Sejak zaman baheula, cinta adalah sebuah kata yang tak terpanah bisa untuk dibicarakan. Pengaruhnya yang begitu dahsyat mampu menjadi topic yang actual dalam berbagai perbincangan apapun. Dan karena cinta, akhirnya lahirlah ribuan kisah-kisah yang romantic sepanjang peradapan manusia. Gemanya tetap terasa sepanjang masa.

Atas nama cinta pula juataan pasangan mampua bertahan di atas biduk rumah tangga. Menjaga kestabilannya dalam mengarungai dahsyatnya gelombang kehidupan.

Kedudukan cinta

Cinta menduduki derajat yang begitu mulia dan indah. Kehadiranya selalu didamabakan setiap jiwa. Dan tanpanya –kata orang—kegersangan menyelimuti kehidupan manusia. Hati yang menjadi amat keras bila tiada setitik perasaan cinta yang bersemayam di kalbu. Betapa air mata tak ‘kan pernah tumpah dalam menangisi kekasih nun jauh disana.

Cinta adalah fitrah, yang tidak bisa diingkari keberadaannya. Siapapun akan merasa jatuh cinta, tidak peduli sedingin apapun orangnya. Selama masih normal pasti sedikit banyak telah mengenal apa yang namanya cinta. Dari berbagai kasus yang ada, betapa cinta mempengaruhi kehidupan seseorang. Rasa rindu saat jatuh cinta atau rasa sesal dan sakit hati saat cinta tak kesampaian menunjukkan besarnya pengaruh cinta.

Cinta adalah derajat yang kebanyakan menusia berlomba, kepadanya orang kembali. Karenanya orang yang mencintai saling memusnahkan lawanya. Dengan semilir angain cinta mereka yang telah memadunya merasa bahagia. Ia adalah makanan hati, santapan jiwa dan obat penenang.

Nilai Sebuah Cinta

Cinta adalah “sumber kehidupan”, sehingga orang yang terhalang darinta dianggap telah mati. Ia adalah cahaya bagi seseorang yang berada dalam laut kegelapan. Obat yang dengan ketiadaanya maka semua penyakit bersarang di hati manusia. Ia adalah kabahagiaan yang bila seseorang tidak mampu mendapatkannya akan menuai kepedihan dan penderitaan dalam hidupnya. Ia adalah lintasan perjalanan yang menjadikan sesuatu yang jauh menjadi terasa dekat. Tentang yang terakhir ada sebuah syair :

Wahai jika kamu pemilik cinta

Dan telah terdorong dengan kerinduan

Maka anggaplah jarak perjalanan itu dekat

Karena kecintaan dan kerelaanmu pada penyeru

Ketika mereka menyeru

Maka katakanlah, kami penuhi panggilanmu

1000 kali dengan sempurna

Jangan berpaling dari mereka

Hanya karena melihat gerimis

Cinta Karena Allah

Cinta karena Allah merupakan puncak kesempurnaan cinta yang dimiliki hamba. Perasaan ini paling murni dan tanpa dicemari rasa pamrih. Mencintai-Nya berarti mencintai segala yang dicintai-Nya; mencintai segala sesuatu yang dapat menamnah kecintaan kepada-Nya. Sementara seseorang yang mencintai orang lain karena mendapatkan sesuatu yang berate ia hanya mencintai pemberian itu. Begitu juga mencintai seseorang karena mendapat pertolongan, berarti Cuma mencintai pertolongannya. Cinta semacam inilah yang sam sekali tidak mendapatkan pahala san manfaat; hanya akan menumbuhkan sika munafik dan menjilat.

Cinta karena Allah lebih didorong bahwa yang dicintai adalah muslim yang saleh. Kecintaan untuk membangkitkannya menuju Allah, saling menaksehati dala, kebenaran dan kesabaran serta ber-ta’awun dalam kebaikan, dzikir, dakwah dan ilmu.

Nikmat Cinta Itu

Gelora cinta kepada Allah yang begitu kuat mampu menumbuhkan perasaan rindu yang membara. Dari sinilah lahir keindahan yang agung, itulah puncak angan bagi pemiliknya. Begitu nikmat buah cinta tersebut, di antaranya adalah:

  • Kenikmatan dan kebahagiaan

Orang yang mencintai karena Allah tidak pernah terpisah dari kebahagiaan dan ia mendapatkan manisnya cinta melebihi apapun.

  • Menghibur diri dengan melupakan musibah yang menimpa
  • Bila seseorang menemukan kekasih, maka ia tak ‘kan peduli apapun yang menimpa atau hilang darinya.

Cukuplah kekasih sebagai pengganti dari tiap sesuatu yang hilang. Meski dalam cinta tidak mendapatkan keuntungan meteri tak masalah. Cukup sudah bila mendapat kemuliaan dan kepuasan batin.

  • Lapang dada
  • Kecintaan bisa menjauhkan seseorang dari api neraka, seperti kisah sebuah hadist:

“Dari Anas, ia berkata, ‘Rasulullah dan para sahabat melewati seorang anak yang berada di antara 2 punggung unta. Ketika melihat binatang ternaknya akan menginjak sang anak, ibunya berlari sambil memanggil, ‘Anakku! Anakku!’ saat itu ia tengah mengandung. Para sahabat bertnaya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ibu seperti itu akan menemuai anaknya di dalam neraka?’ Rasulullah menjawab, ‘Wallahi, tidak demikian! Allah tidak akan menemui kekasih-Nya di dalam neraka,.” (Hadits riwayat Ahmad)

Tulisan ini bersumber dari majalah El-Fata edisi I I/II/2002